Lho kok ada gambar uwang??hehe...bener post kali ini aku ingin menulis tentang uwang,
but its not just about a money...
Setiap orang kalau lihat uwang pasti akan suka, jujur aja secara realistis manusia hidup butuh uwang, meski uwang bukan segalanya, tapi hari gini hampir segalanya butuh uwang. Jangankan buat makan buat kencing ama BAB diterminal aja harus pake uwang, meski cuma seribu-duaribu rupiah, tetap saja itu namanya uwang kan?
Beberapa waktu lalu aku dan suami harus ke Lumajang (sebenarnya cuma aku sendiri sih, suami cuma nganterin) untuk mengurusi beberapa dokumen. Selain itu suami juga ada rencana untuk mampir ke tempat kenalan kami diJember karena ada urusan dengan per-warnet-an. So, jadilah kami berangkat berdua mengendarai si Pino,
our best companion for this last 4 years. kami memang sangat suka sekali melakukan perjalanan dengan motor, selain cepet juga dirasa lebih hemat, ongkos yang dikeluarkan untuk bahan bakar bisa hampir separuhnya dari ongkos yang dikeluarkan jika naik bus. Kamipun mempersiapkan ongkos2 untuk pengurusan dokumen, warnet, bensin, oleh2 untuk orang rumah, dan juga ongkos untuk makan dan pengeluaran tak terduga lainnya (misal, sewaktu diLumajang ban kami bocor).
Semuanya sudah disesuaikan dengan perhitungan kami. Setelah urusan di Lumajang selesai, kamipun bergegas ke Jember, bertemu kenalan, teman, dan junior kami di kampus. Ketika bertemu teman2 pun tidak mungkin kami akan diam saja, tanpa mengajak mereka hanya sekedar makan bakso, kue ataupun ngopi dikantin, dan hal ini sebenarnya sudah masuk dalam perhitungan kami setiap melakukan perjalanan pulang. Maka hari itupun setelah segala urusan selesai kami memutuskan untuk segera pulang ke Panarukan, dan setelah cek n ricek barulah kami sadari bahwa uwang yang tersisa dikantong kami hanya 20ribu saja. Sebetulnya itu sudah lebih dari sekedar cukup untuk bekal kami sampe dirumah dengan mengendarai Pino. Setelah mampir pom bensin, akhirnya hanya tersisa 8rb rupiah saja dikantong. Lalu, hanya dengan bismilah saja kami memulai perjalanan pulang, berharap segalanya akan diberi kemudahan dan kelancaran hingga sampe dirumah, karena cadangan untuk pengeluaran tak terduga lagi sangat menipis. Alhamdulillah, akhirnya kamipun sampe dirumah dengan selamat ditemani oleh uwang sebesar 8ribu rupiah tadi.
Kami merasakan uwang 8ribu rupiah itu sangatlah berharga selama perjalanan kami pulang. Mungkin akan terasa beda sekali rasanya jika uwang 8ribu rupiah itu kami miliki saat ada dirumah, untuk belanja harian saja, uwang sebesar itu jaman sekarang hanya dapat daging ayam 1/4kg dan tempe sepotong, dan tahu 5 biji, belum lagi bumbu2nya, maka tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari. Mungkin saat dirumah aku akan merajuk ke suamiku untuk menambah uang belanja barang 5rb lagi agar cukup sekalian membeli bumbu untuk memasak. Tetapi tiba2 saja aku merasakan betapa besarnya makna uwang 8ribu rupiah itu ketika kami dalam keadaan terdesak tanpa ada dana cadangan lagi. Aku bisa merasakan apa yang orang lain rasakan ketika mereka hanya memegang segelintir uwang untuk menjalani hidupnya hari ini, atau bahkan juga untuk esok harinya. Aku juga teringat lagi ketika masa2 perjuangan sewaktu kuliah dulu, bapakku yang hanya seoarang PNS guru dengan 2 orang anak dibangku kuliah dan seorang dibangku SMA, maka saat itu kami (aku dan adikku) hanya bisa menjalani kehidupan yang sederhana selama diperantauan. Tapi aku merasa senang dan bangga, karena kami bisa melewati itu semua dengan baik, terbukti kami mampu lulus dan menjadi sarjana tanpa harus berlama2 membuang uwang ortuku lebih banyak lagi (meski kelulusanku agak sedikit telat dibandingkan teman2 yang lain).
Ketika akhirnya aku dan adikku mampu menghasilkan uang sendiri dengan bekerja, maka rasa akan perjuangan itu semakin membuat kami dewasa. ketika teman2 sepantaran kami hanya bisa kuliah dan meminta uang dari orang tua, kami bisa menjalani kuliah dan bekerja dan menhasilkan sesuatu darinya. Pino ini adalah perwujudan dari perjuanganku dan suami (sewaktu pacaran dulu kami sama2 kuliah sambil kerja dan akhirnya memutuskan untuk mengkredit motor bersama) dan alhamdulillah sampe sekarang Pino masih menemani kami. Maka sebenarnya ketika kita dihadapkan dengan uwang, seberapapun besarnya tidak akan pernah mencukupi jika disandingkan dengan keinginan manusia yang semakin lama semakin meningkat, namun ketika dalam keterbatasan kitapun akhirnya akan menyadari, bahwa besar kecilnya makna uwang itu tergantung dari sudut pandang mana dan keadaan apa yang sedang kita alamin. Boleh jadi untuk saat ini memang hampir segalanya butuh uwang, tetapi tetap saja uwang itu bukan segalanya. Ada poin2 tertentu dalam hidup kita yang tidak terbeli oleh uwang, kebahagiaan, kepuasan, rasa senang, kemauan untuk berbagi dengan yang lain, dan kehidupan itu sendiri. Seberapa banyakpun uwang yang kita miliki, takkan bisa mengganti nyawa yang sudah waktunya berpulang pada sang Pemilik, tapi dengan adanya uwang, mungkin kita bisa melakukan lebih banyak hal lagi dalam kehidupan kita.
Moral of the story: ketika kita dihadapkan dalam keterbatasan, maka mungkin kita baru akan menyadari betapa besar karunia yang pernah kita dapatkan dan nikmati selama ini. I
ts not just about a money, but its about how we appreciate n treat it in our life. It could be a friend of us, but it could be something that destroy our life a lot.